ketika lantunan indah suara musik berarak di telinga ku, seketika wajahmu muncul dalam benak ini. Benar ! aku merindukan mu, kamu yang tak biasa dengan diam mu.
Perjalanan apa yang kau lalui ? kisah apa yang telah terukir disana ? aku ingin tau ! cerita apa yang telah aku lewati ? aku ingin tau ! kenapa skenario diam ini terlalu lama ? aku benci ! kenapa harus diam ? apa dengan diam semua akan selesai ? kita teman bukan ? aku, kamu, dia dan mereka.
Jangan juarai hatimu dengan keras nya ego, jika dia salah, ingatkan dia, ajari dia. jangan kau diami dia ! perubahan mu menyiksanya ! percayalah, dia menyayangimu, dia ingin sekali memahami mu yang terlanjur terbakar emosi dalam gundah mu.
begitu juga dengan mu, jangan kau pelihara rasa takut mu, ajari mulut mu untuk menyapa nya terlebih dulu, ajari hatimu untuk lebih lunak lagi dalam melantunkan kalimat padanya, ajari tangan mu untuk mengayunkan jemari mu. Beranikan dirimu untuk memulai nya, jika terlalu lama kau menunggunya untuk menyapa mu.
Ingat lah kembali bagaimana senyum yang kita ukir bersama, derasnya tawa yang kita gambar disaat bersama, indahnya bahasa yang tertuang dalam setiap dialog perjumpaan kita. haruskah diam yang memenangi nya ? haruskah diam menjadi sang juara nya ? teman ! aku tak ingin diam memberikan jarak antara kita, itu menyakitkan ! sungguh.
Aku sangat berharap diam ini tak akan lama. sungguh ingin ku esok kau dan dia kembali ceria.. bersama .. bersama ku dan juga mereka..
Dari aku yang merindukan mu,
F.M.H
Terkadang diam itu emas, yang nilainya mengalahkan segala keangkuhan dan dendam di dalam.
BalasHapusLalu, kita akan sibuk bertanya tentang diri kita; kapan, dimana, mengapa dan haruskah ?
ia, kita mengulur waktu untuk jawaban yang bijak, agar tak ada hati yang tersakiti karena waktu.
Kita semua dihakimi masa itu sendiri, mempertanggung jawabkan asa ditengah hari. Hingga pada masanya kita lupa akan jawaban yang kita pertanyakan sendiri.
Ada saatnya harapan juga buah penyesalan, sebab dengan berharap kita telah memulai penderitaan itu sendiri, ya kita sendiri dari buah bibir yang lain.
kita tahu, ini akan ditentang, sebab dengan diam ada baiknya kita dekat dengan jiwa, hati dan pikiran itu semata.
Menangislah, jika itu patut untuk ditangisi dan tersenyumlah bila manisnya kau telah dapati. Ya ada buah manis dibalik layar sesungguhnya, sebab Dia yang Sesungguhnya telah menyiapkan lakon terbaik untuk kita semua, ya kita semua.