Siang yang begitu terik, matahari sedang mengebu-gebu menyinari alamnya. Langkah itu semakin dekat menuju gerbang coklat yang tertutup rapat, ya gerbang itu adalah gerbang masuk menuju tempat berlindungnya tubuh ini dari sengatan yang begitu mencekik kulit ini.
Tak senyum, tak pula sapaan yang di dapat setelah beberapa hari meninggalkan tempat ini. Si sulung begitu dingin kurasa, ku tak melihatnya seperti biasanya, dia diam dengan wajah yang asem. Si bungsu masih seperti biasa, selalu menayakan oleh-oleh apa yang kubawakan untuknya.
Kenapa? Apa yang terjadi? yaah, begitu terasa asing dengan kesunyian dari si sulung yang berlagak tak ada apa-apa dengan ku.
Tak terasa telah berlalu dua jam dari pukul 14.00wib aku berteduh dari sengatan matahari. kini saatnya aku bergerak menuju tempat yang selalu memotivasiku menuju gerbang kesuksesan. Sebelum beranjak kesana, aku menyempatkan mampir menjemput wanita yang begitu tangguh yang pernah kutemui di dunia ini. ya, dia Ibu ku, sesampai di tempat yang selalu menyibukkannya, aku mendapatkannya sedang berdiskusi rumit, terlihat dari raut wajah dan keningnya yang begitu mengkerut dengan sedikit senyum miring.
Benar-benar pemandangan yang tak ingin ku lihat, namun apalah daya, udah keliat. haha,-
Dari sela-sela pintu ia mengisyaratkan padaku untuk menunggu di kursi tamu yang tak jauh dari tempatnya. Satu jam berlalu, dan akupun terus menunggunya, terdengar bisik-bisikan kecil dari ruang itu, sedikit tawaan dan sedikit makian. Aku ingin peduli dengan apa yang terjadi, namun sepertinya saat ini aku belum pantas tau tentang apa yang terjadi dengannya dan kerjanya.
"Masuklah nak" panggilnya. Lamunanku terpecah, "ya bu" saut ku. Ku ambil posisi duduk didepan meja yang penuh tumpukan buku dan surat-surat. ku tatap wajahnya yang begitu letih dan penuh kekecewaan, keringat bercucuran dari keningnya, "apakah dia sakit?" tanya ku dalam hati.
Ia menawarkan tawaran yang tak ku duga,"nak, ibu lelah, bagaimana kalau kita pulang saja dan tak mengikuti kegiatan itu?" tanya nya. kecewa raut wajahku terpancar seketika dan saut ku seketika " kenapa tak daritadi ibu bilang, kan aku bisa langsung pergi kalau tau ibu ga pergi, ga perlu menunggu terlalu lama" ucapku sedikit ketus. dia terdiam, aku terdiam dan seketika hening. Tersadarku atas ucapku yang tak pantas, cepat-cepat langsung ku hapus kalimat itu dengan mengatakan " iya, gpp bu, aku juga capek baru sampai di padang, belum sempat istirahat dan sedikit mengantuk, begitu lelah rasanya, sebaiknya kita pulang saja dan istirahat untuk kegiatan esok". senyumnya melegakan ku.
Tak diduga, ketika kami melangkahkan kaki keluar dari tempat yang tak kusuka karena selalu meyibukkannya, ia berkata, kita jalan-jalan dulu cari makanan dan buah. Kurasa dia rindu karena terpisah selama beberapa hari denganku, ia mengabulkan semua pintaku saat itu. Hingga tibalah aku di gerbang coklat itu lagi. Hawa dingin masi terpancar dari si sulung, penasaran itu kembali mengerogotiku, ada apa dengannya. . . ?
Apakah dia cemburu ? ataukah iri ? apakah itu yang ia rasakan terhadapku? aku tak bermaksud membuatnya merasakan hal itu terhadapku. apakah ia cemburu dengan kebebasan dan kepercayaan nya terhadapku? apakah ia iri atas apa yang kuterima darinya? itu masi menjadi tanda tanya bagiku. Namun satu hal yang inigin ku sampaikan padamu, bahwa aku tak pernah bermaksud untuk membuatmu merasa iri ataupun cemburu atas apa yang ku rasa, apa yang kudapat saat ini. Bentuklah kembali kepercayaan darinya untuk mu. Jangan bersikap diam dan acuh terhadapnya karena itu tak akan membantumu disetiap kegiatan yang akan kamu lakukan nantinya. Ia ingin melihat kamu dengan kesungguhan atas kejujuran dan betapa kamu bisa menjaga dirimu untuknya dan untuk dirimu sendiri. Ketahuilah bahwa Ia begitu menyayangimu yang selalu acuh, ketahuilah Ia tak ingin kamu tersakiti oleh pihak lain yang kamu tinggikan.
Maaf jika kedekatan dan kebebasan darinya membuatmu merasa cemburu ataupun iri sulung :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar